Buat
apa mengaku berilmu tinggi kalau anda tinggi hati ? Kalau tumpukan
kitab/buku/paper yang anda pelajari tidak bisa melembutkan hati anda
untuk menghormati orang lain, dan menyayangi sesama, pasti ada sesuatu
yang salah pada diri anda? Al-Quran menyebutnya dengan istilah"ka
matsalil khimar yahmilu asfaran" (QS 62:5).
Seorang alim pergi bertandang ke suatu tempat, dan menebar ilmunya, ketika dia
beranjak pulang, ilmu yang disampaikannya boleh jadi lebih banyak masuk
kuping kanan dan keluar dari kuping kiri, atau boleh jadi apa yang
disampaikannya terlalu sulit untuk dipahami jamaahnya, namun yang
melekat di sanubari mereka adalah kerendahan hati dan kesantunan sang
alim. Itulah buah ilmu yang bisa dinikmati oleh semua jamaah.
Kalau besok-besok anda berjumpa dengan seorang yang gelarnya berderet,
penampilannya intelek, gayanya kayak orang pintar namun sibuk
menyalah-nyalahkan orang lain, memaki orang yang berbeda pendapat
dengannya, dan merasa seolah-olah hanya pendapat dialah yang paling
benar, ingatlah ilustrasi yang Allah berikan di atas"seperti keledai
yang membawa tumpukan kitab". Ilmunya tidak ada manfaatnya sama sekali.
#refleksi #introspeksi #cermin
= Prof. Nadirsyah Hosen =
Sumber FB: Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar